Minggu, 03 Juli 2011

AIK VI : Laki-Laki Pemimpin Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN
Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga dimulai dgn ijab-kabul. Saat itulah yang halal bisa jadi haram atau sebalik yg haram bisa jadi halal. Demikianlah Allah telah menetapkan bahwa ijab-kabul walau hanya beberapa patah kata dan hanya beberapa saat saja tapi ternyata bisa menghalalkan yg haram dan mengharamkan yg halal.

Saat itu terdapat mempelai pria mempelai wanita wali dan saksi lalu ijab-kabul dilakukan sahlah kedua sebagai suami-istri. Status kedua pun berubah asal kenalan biasa tiba-tiba jadi suami asal tetangga rumah tiba-tiba jadi istri. Orang tua pun yg tadi sepasang saat itu tambah lagi sepasang. Karena andaikata seseorang berumah tangga dan dia tak siap serta tak mengerti bagaimana memposisikan diri maka rumah tangga hanya akan menjadi awal berdatangan aneka masalah. Ketika seorang suami tak sadar bahwa diri sudah beristri lalu bersikap seperti seorang yg belum beristri akan jadi masalah.
Dia juga punya mertua itupun harus menjadi bagian yg harus disadari oleh seorang suami. Setahun dua tahun kalau Allah mengijinkan akan punya anak yg berarti bertambah lagi status sebagai bapak. Ke mertua jadi anak ke istri jadi suami ke anak jadi bapak. Bayangkan begitu banyak status yg disandang yg kalau tak tahu ilmu justru status ini akan membawa mudharat. Karena menikah itu tak semudah yg diduga pernikahan yg tanpa ilmu berarti segera bersiaplah utk mengarungi aneka derita. Kenapa ada orang yg stress dalam rumah tangganya? Hal ini terjadi krn ilmu tak memadai dgn masalah yang dihadapinya. Begitu juga bagi wanita yg menikah ia akan jadi seorang istri. Tentusaja tak bisa sembarangan kalau sudah menjadi istri krn memang sudah ada ikatan tersendiri. Status juga bertambah jadi anak dari mertua ketika punya anak jadi ibu. Demikianlah Allah telah menyeting sedemikian rupa sehingga suami dan istri kedua mempunyai peran yg berbeda-beda.







BAB II
PEMBAHASAN
A. Tanggung Jawab Seorang Laki-Laki

Idealnya setiap wanita pasti menginginkan seorang imam untuk memimpin rumah tangganya dalam berbagai aspek kehidupan. Seorang imam yang kelak dapat mengajarkan budi pekerti yang baik kepada keluarganya, karena dalam hal ini kelak seorang imam akan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya di akhirat atas apa yg dipimpinnya..
"Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya…(HR al-Bukhari dan Muslim)."
Bukan hanya peran seorang imam saja yang akan dipertanggungjawabkan, begitu juga makmumnya. Seperti yang dituliskan dalam hadist riwayat Bukhari ini "Imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas makmumnya, seorang laki-laki adalah pemimpin bagi dia dan keluarganya dan bertanggung jawab pula atas keluarganya, dan perempuan, adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dia arahkan” (HR Bukhari).
Rasulullah saw. telah menetapkan tanggung jawab terhadap laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dalam kapasitas sebagai pemimpin yang berbeda di dalam sebuah keluarga. Suami sebagai pemimpin bertugas mengendalikan arah rumah tangga serta penjamin kebutuhan hidup sehari-hari. Adapun istri berperan sebagai pelaksana teknis tersedianya kebutuhan hidup keluarga serta penanggung jawab harian atas terselenggaranya segala sesuatu yang memungkinkan fungsi-fungsi keluarga tersebut dapat dicapai. Berjalan-tidaknya fungsi-fungsi keluarga secara adil dan memadai merupakan indikasi tercapai-tidaknya keharmonisan dalam keluarga. Namun, ibarat mengayuh perahu, keduanya harus saling kompak dan bekerjasama agar biduk rumah tangga tidak terbalik. Fungsi-fungsi keluarga yang dimaksud adalah fungsi reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi, sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang), rekreasi, dan fungsi reliji (keagamaan).
Sebaliknya, seorang istri juga perlu selalu menyambut suami dengan menampakkan wajah berseri-seri dan memakai wewangian. Kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga juga meliputi hubungan antara orangtua dan anak. Suasana ibadah dapat ditumbuhkan di tengah keluarga dengan terbiasa melakukan shalat berjamaah, tadarus bersama, shaum sunnah dan qiyamullail. Rasulullah saw. memuliakan suami istri yang terbiasa melakukan qiyamullail bersama, “Semoga Allah merahmati lelaki yang bangun malam, mengerjakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, mengerjakan shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).
Subhânallâh! indahnya kebersamaan seperti ini yaa apalagi jika dilakukan oleh seluruh anggota keluarga.. saling mengingatkan satu sama lain, memahami peran dan fungsi masing-masing.

B. Setiap Lelaki Pemimpin bagi Wanita
Sebelum menikah, semua wanita ingin mendapatkan suami yang bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Dengan kempemimpinannya itu, sang wanita berharap mendapatkan kebahagian. Laki-laki adalah imam (pemimpin), demikian kaum hawa menyebut.

Wanita ingin selain sebagai pemimpin, laki-laki juga bisa melindungi dirinya. Memberikan kenyamanan, keamanan, mendidik wanita dan keturunnya kelak. Apakah bisa wanita memberikan beberapa hal tersebut kepada laki-laki.
Dengan alasan emansipasi, wanita juga memiliki kesempatan dan hak sama seperti laki-laki.
Siapa pun yang mencalonkan diri menjadi pemimpin kelak, hampir dipastikan karena dorongan ambisi pribadi, ambisi politik dan kelompok. Hukum dan kedudukan seorang wanita tidak lagi dicermati untuk urusan kekuasaan ini.
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita." (QS. An Nisaa : 34). “Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki).” (QS. An Nisaa : 34).
Hukum ini dipertegas oleh alasan yang juga terdapat didalam ayat itu, yaitu kelebihan akal, pemikiran dan lainnya dari sisi kapabilitas untuk mengemban peradilan dan kepemimpinan.
"Tidaklah sekali-kali beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita." (HR. Bukhori). "Kaum laki-laki lebih memiliki kemampuan daripada wanita didalam bidang ini.” (HR. Bukhori).
Pemimpin yang sedang dicari-cari orang banyak adalah pemimpin kolosal untuk satu kafilah bangsa, negeri ini, dengan segala ke-aneka-ragam-an-nya. Skala besar. Untuk skala yang besar tersebut, semua orang mencari-cari sosok yang ”besar”, entah apanya yang besar, namanya-kah, keturunan-nya-kah, tampang-nya-kah? Rakyat negeri ini masih mencari format, ukuran besar apa yang sedang dicari.
Tidak banyak yang memperhatikan, namun sebenarnya ada kepemimpinan yang tak kalah pentingnya dari pemimpin kafilah bangsa, bahkan merupakan kepemimpinan yang juga disumpah atas nama Allah SWT, yaitu pemimpin keluarga. Mungkin banyak yang tidak setuju, namun sebenarnya kepemimpinan dalam keluarga sangat-sangat penting untuk dibahas, bahkan pemimpin keluarga adalah (pada hakekatnya) pemimpin benteng terakhir ummat.
Tidak banyak yang memperhatikan bahwa sesungguhnya apa yang besar selalu berawal dari yang kecil. Termasuk kepemimpinan. Hadits Nabi kita Muhammad SAW mengatakan: ”Tiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya..” Uraian selanjutnya bahkan hadits tersebut juga menyebutkan bahwa seorang istri pemimpin urusan rumahtangganya dan seterusnya. Kepemimpinan adalah sesuatu yang harus dipertanggung-jawabkan. Sesuatu yang merupakan tugas, sesuatu pemberian ”amanah” yaitu beban titipan. Pertanggung-jawabannya adalah kepada Pemberi tugas, Pemberi amanah tersebut yaitu Allah SWT.

C. Kepemimpinan dalam Rumah Tangga
Alasan Kepemimpinan dalam Rumah Tangga antara lain:
- Alasan pertama: Ummat manusia adalah makhluk Allah SWT yang regenerasi ummatnya melalui sebuah proses yang panjang dan rumit. Ia tidak bisa berkembang sendiri seperti seekor anak ular yang menetas dari telurnya, atau anak domba sudah dapat berlari seperti induknya. Seorang anak manusia sejak lahir hingga dewasa dan dapat mandiri membutuhkan waktu yang panjang dan perawatan yang rumit. Paling rumit diantara seluruh species yang ada. Ia memerlukan keluarga tempat ia dapat tumbuh sebaik-baiknya, dan lembaga keluarga ini harus mempunyai seorang pemimpin. Seorang anak yang tidak beruntung yang lahir tanpa keluarga yang merawatnya dengan baik akan melalui perkembangan yang amat sulit dan berpotensi menjadi anak bermasalah.
- Alasan kedua mengapa pemimpin dalam keluarga memiliki peran penting adalah dalam masalah keteladanan untuk generasi penerus ummat manusia. Masalah ”role model”. Persoalannya menyangkut poin penting dalam pendidikan anak. Seorang anak membutuhkan ”role model” yang baik untuk dapat membentuk kepribadian yang sempurna. Jika role model yang ada ternyata kurang baik atau bahkan buruk, maka ketika anak menirunya dan juga menjadi buruk, perlu waktu yang lama untuk memperbaiki anak tersebut. Oleh karena itu, pemimpin dalam keluarga (dalam hal ini ayah) harus memiliki kepribadian yang baik agar anak tidak salah didik. Studi mengenai kepribadian para kriminal ternyata menemukan cacat-cacat yang dibawa dari masa awal pendidikannya dalam keluarga.
- Alasan ketiga adalah masalah yang lebih rumit lagi. Masih berkaitan dengan ”role model”, namun kali ini adalah keluarga sebagai prototip sebuah masyarakat bahkan sebuah negara. Dalam lembaga keluarga, selain mesti ada undang-undang dan aturan-aturan, juga ada pemimpin sebagaimana sebuah negara memiliki presiden, ada pengatur urusan domestik internal yaitu ibu sebagaimana dalam negara ada perdana menteri dan kabinet, juga ada pekerja dan rakyat. Ada rakyat yang lemah ada yang lebih kuat, sebagaimana ada anak yang sudah lebih besar dan yang masih kecil. Dalam prototip masyarakat inilah seorang anak belajar bermusyawarah, berbagi, berempati dan bekerjasama dengan anggota masyarakat lain.


BAB III
PENUTUP
Keluarga bukan hanya sebagai prototip masyarakat, namun keluarga adalah tempat pendidikan pertama seorang calon anggota masyarakat. Sebelum mencicipi situasi dan kondisi di masyarakat luas, ia lebih dahulu merasakannya dalam lingkungan masyarakat mini tempat ia dibesarkan.
Itu sebabnya amat penting mengatur keluarga dengan aturan yang jelas, tegas namun penuh kasih sayang, sebagaimana demikian pula yang kita harapkan dari masyarakat dan negara tempat hidup kita. Jika keadaan keluarga yang membesarkannya adalah keluarga yang penuh permusuhan, tidak toleran dan terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan, maka anak akan tumbuh menjadi preman. Apalagi jika ”role model” (dalam hal ini orangtua atau ayah khususnya) yang ada memang sosok yang selalu menyelesaikan masalah dengan tangan besi, otoriter, dan kasar.
Begitulah, sebuah negara terbentuk dari berbagai kumpulan masyarakat; setiap kelompok masyarakat terdiri dari sekumpulan keluarga. Sedangkan setiap tokoh masyarakat muncul dan berawal dari keluarga-keluarga. Alangkah pentingnya memperhatikan pendidikan dalam keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar